Tahun 2026 sudah memasuki kuartal ke-2. Tahun yang semula digadang-gadang positif untuk pasar modal seiring ekspektasi penurunan suku bunga dan perbaikan pertumbuhan ekonomi, ternyata berbeda dari perkiraan analis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara year-to-date (YTD) per 23 April 2026 masih berada di teritori negatif 15% akibat tekanan geopolitik dan kekhawatiran atas fiskal Indonesia. Pun demikian, masih ada instrumen investasi yang menarik, salah satunya reksadana pasar uang.
Di tahun ini reksadana pasar uang yang secara rata-rata memberikan kinerja YTD sebesar 1,3% menjadi jenis reksadana dengan return tertinggi. Bahkan unggul dibandingkan reksadana pendapatan tetap yang seharusnya diuntungkan oleh tren penurunan suku bunga, namun justru negatif 0,3%. Reksadana jenis campuran turun tipis 2%, dan reksadana saham minus 5,3%.
Di tengah ketidakpastian, investasi yang aman dan likuid sangat dibutuhkan masyarakat. Reksadana pasar uang (RDPU) pun menjadi primadona karena menawarkan kemudahan transaksi, kinerja setara deposito, dan likuiditas setara tabungan. Lalu, RDPU seperti apa yang kinerjanya baik? Apakah yang dana kelolaannya jumbo atau yang sedang-sedang saja?
Reksadana pasar uang adalah reksadana yang hanya boleh berinvestasi pada efek utang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun, seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI/SRBI), deposito, dan obligasi jangka pendek. Dengan portofolio demikian, reksadana pasar uang menjadi jenis reksadana yang relatif paling aman. Terbukti, secara rata-rata di tahun 2026 kinerja reksadana pasar uang berada di atas deposito.
Industri reksadana pasar uang sendiri juga masih bertumbuh. Hingga akhir Maret 2026, terdapat 206 reksadana pasar uang dengan dana kelolaan sebesar Rp135 triliun. Dalam setahun terakhir, dana kelolaan RDPU tumbuh 60%, tertinggi kedua setelah reksadana pendapatan tetap, sementara beberapa jenis reksadana lain justru mengalami penurunan. Minat investor yang besar ini banyak dimotori oleh investor baru, Saat ini jumlah investor reksadana sudah menembus 23 juta orang terutama generasi milenial dan Gen Z yang membeli RDPU melalui aplikasi perbankan, agen penjual reksadana online, marketplace, hingga dompet digital
Kembali ke kinerja RDPU, salah satu faktor pertimbangan selama ini adalah dana kelolaan. Banyak yang beranggapan bahwa semakin besar dana kelolaan, semakin aman dari sisi likuiditas. Tapi bagaimana dengan sisi kinerja?
Dalam mengelola dana, umumnya manajer investasi menggunakan dua strategi utama: fokus pada likuiditas dan besar di deposito, atau fokus pada kinerja dengan membeli obligasi-obligasi jangka pendek yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, meski dengan risiko tambahan (terutama obligasi korporasi yang berpotensi gagal bayar).
Pengelolaan RDPU merupakan gabungan dari kedua strategi tersebut untuk mendapatkan kinerja optimal di atas deposito sambil tetap menjaga likuiditas, mengingat aturan pencairan maksimal T+1.Dengan premis di atas, lebih baik masuk ke RDPU dengan dana kelolaan besar di atas Rp1 triliun atau yang di bawahnya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dilakukan riset pada RDPU di Indonesia. Data yang dikumpulkan adalah return setahun (23 April 2025 – 23 April 2026) untuk reksadana dengan rata-rata dana kelolaan di atas Rp10 miliar (sesuai ketentuan OJK). Terkumpul 138 RDPU. Selanjutnya, riset dilakukan dengan memisahkan menjadi 4 kuartil berdasarkan AUM dengan detail sebagai berikut:
?

Statistik RDPUKelas Aset Under Management (AUM)
AUM < RP100 MAUM RP100 - 500 MAUM RP500 M - 1 TAUM > RP1 T
Total Reksa Dana66291726
Rata-Rata Return 1 Tahun4.04%4.92%4.71%4.67%
Average Growth Unit Penyertaan36%152%94%127%

Sumber : www.infovesta.com

Dalam periode tersebut, Indeks Reksadana Pasar Uang membukukan kinerja 4,4%. Hampir semua kuartil memiliki rata-rata kinerja di atas indeks, kecuali kuartil dana kelolaan di bawah Rp100 miliar. Kinerja tertinggi tercatat pada dana kelolaan Rp100–500 miliar. Terlihat semakin besar dana kelolaan, kinerja cenderung sedikit menurun. Hal ini dapat dipahami karena semakin besar dana yang dikelola, manajer investasi harus semakin prudent dalam mempertimbangkan risiko likuiditas dan memilih instrumen yang lebih likuid.

Dari sisi pertumbuhan unit penyertaan, semua kuartil menunjukkan pertumbuhan positif dengan pertumbuhan tertinggi pada kuartil Rp100–500 miliar. Hal ini kemungkinan karena return yang tinggi menarik minat investor. Sementara kuartil terbesar (> Rp1 triliun) juga mencatat pertumbuhan tinggi, menandakan investor tetap masuk meski kinerja bukan yang paling tinggi, selama kinerja masih baik dan likuiditas terjaga.

Jika hasil ini dijadikan referensi, untuk kinerja yang lebih optimal investor bisa memilih RDPU dengan dana kelolaan Rp100–500 miliar. Walau sebenarnya, kinerja kuartil lain juga tidak terlalu jauh berbeda. Karena fokus utama RDPU bukan pada return tertinggi, melainkan keamanan dan likuiditas, investor lebih disarankan fokus pada reksadana yang memberikan kemudahan bertransaksi.

Melanjutkan tahun 2026 yang masih diselimuti ketidakpastian, tidak ada salahnya investor diversifikasi ke instrumen yang aman dan likuid sambil menunggu pasar modal bergairah kembali.Perlu diingat, kesimpulan di atas dapat berbeda bila periode pengamatan diubah. Dalam mengambil keputusan investasi pada RDPU, investor tetap harus mempertimbangkan faktor lain selain dana kelolaan dan return historis, seperti profil risiko, tujuan, jangka waktu investasi, serta kemudahan dan kenyamanan bertransaksi.
Happy Investing!