Hampir tiga tahun sejak diterbitkan pertama kali pada 15 September 2023, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah menjelma menjadi salah satu instrumen paling berpengaruh di pasar keuangan Indonesia. Dana yang terhimpun melonjak dari Rp 71,5 triliun pada akhir September 2023 menjadi Rp 979,9 triliun per 29 Mei 2026, dan diperkirakan menembus Rp 1.000 triliun di Juni 2026. Pada lelang terakhir 3 Juli 2026, imbal hasil rata-rata tertimbang untuk tenor 12 bulan mencapai 7,67%, jauh di atas suku bunga acuan BI Rate yang berada di 5,75%.

SRBI adalah surat berharga berdenominasi rupiah yang diterbitkan Bank Indonesia dengan underlying aset Surat Berharga Negara (SBN) yang dimiliki BI. Secara prinsip, BI “meminjam” dana dari perbankan dengan SBN sebagai jaminannya. SRBI dipasarkan melalui mekanisme lelang yang diikuti bank-bank peserta operasi moneter dengan nominal transaksi minimal Rp 1 miliar dan tenor 6, 9, dan 12 bulan. Investor non bank, termasuk investor ritel dan asing, tidak dapat membeli langsung dari BI, namun dapat memperolehnya di pasar sekunder dari bank pemenang lelang. Sejak Februari 2026, frekuensi lelang bahkan dinaikkan dari sekali menjadi dua kali seminggu, yaitu setiap Rabu dan Jumat.

Berbeda dengan obligasi berkupon, SRBI dijual secara diskonto sehingga lebih mirip obligasi zero coupon. Sebagai ilustrasi, dengan imbal hasil 7,67% untuk tenor 12 bulan, SRBI bernilai nominal Rp 1 miliar dijual sekitar Rp 929 juta, dan saat jatuh tempo investor menerima kembali Rp 1 miliar penuh. Selisih itulah keuntungan investor. Tujuan strategis penerbitannya menyerap likuiditas perbankan untuk mengendalikan jumlah uang beredar dan inflasi, sekaligus menawarkan imbal hasil menarik agar dana asing masuk dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah berkurang.

Perjalanan imbal hasil SRBI selama hampir tiga tahun mencerminkan pasang surut tekanan yang dihadapi rupiah. Selisih antara yield SRBI dan BI Rate dapat dibaca sebagai “termometer” seberapa keras BI sedang bertahan.

""

Pada 2024, ketika rupiah tertekan, spread dilebarkan hingga 1,30%. Sepanjang 2025, seiring siklus pelonggaran moneter, spread turun dan yield SRBI menyentuh titik terendah di 4,66% pada lelang Oktober 2025. Namun memasuki 2026, Yield 12 bulan melesat dari 4,87% pada awal Januari menjadi rekor 7,74% pada Juni 2026, dan spread terhadap BI Rate rekor melebar ke 1,92%. BI juga menerbitkan versi valuta asing yaitu SVBI (Sekuritas Valas Bank Indonesia), yang pada Juni 2026 memberikan yield 3,58% untuk tenor 1 bulan dan 3,65% untuk tenor 3 bulan dalam dolar AS.


""

Dana asing di SRBI memuncak di Rp 262,2 triliun pada Oktober 2024 dengan porsi lebih dari 27% dari total. Ketika yield rendah sepanjang 2025, asing keluar hingga tersisa Rp 86,7 triliun pada November 2025. Ketika badai 2026 datang, bantalan dana asing sudah tipis sehingga BI harus memompa yield. Hasilnya kepemilikan asing pulih ke Rp 216,5 triliun per Mei 2026. Tren ini diproyeksikan berlanjut di Juni 2026.

Dari sisi perpajakan, diskonto SRBI dikenakan PPh final 20%, setara pajak bunga deposito, Bandingkan dengan imbal hasil SBN yang hanya dikenakan PPh final 10%. Dengan yield 7,3% hingga 7,7% di seluruh tenor, SRBI menawarkan imbal hasil bersih setelah pajak sekitar 6,1% untuk tenor 12 bulan. Meski terlihat tinggi, perlu dicatat bahwa SUN tenor 1 tahun saat ini memberikan yield sekitar 7,1%, sehingga setelah dipotong pajak 10% hasil bersihnya sekitar 6,4%, masih sedikit lebih menarik dibanding SRBI. Pengecualiannya adalah untuk investor yang mendapat fasilitas bebas pajak seperti danapensiun.
Padahal dari sisi risiko kredit, SRBI diterbitkan langsung oleh bank sentral sehingga risiko gagal bayarnya praktis tidak ada, lebih rendah dari deposito yang penjaminannya oleh LPS dibatasi Rp 2 miliar per nasabah per bank.
Namun ada satu hal yang wajib diingat. Di pasar sekunder berlaku saat yield naik, harga turun. Selama BI masih dalam mode bertahan dan yield SRBI cenderung terus dinaikkan, investor yang menjual sebelum jatuh tempo berisiko menerima capital loss. Investor konservatif sebaiknya memilih tenor pendek 6 bulan dan memegangnya hingga jatuh tempo agar fleksibel bila suku bunga masih naik. Investor moderat dapat mengunci yield 12 bulan di level historis tinggi saat ini. Sepanjang investor memahami karakternya, Imbal hasil lebih tinggi dengan risiko kredit lebih rendah adalah kombinasi yang jarang terjadi. Happy Investing!